Kamis, 14 April 2016

Manusia Unggul

Manusia Unggul


A. Pengertian Manusia Unggul

Era globalisasi bisa dikatakan era yang bersifat horizontal, inklusif dan sosial. Era yang telah diisi dengan keberagaman keahlian manusia dan kompleksitas permasalahan sosial. Era yang penuh persaingan dan menyeluruh pada semua aspek kehidupan masyarakat. Menyambut era globalisasi membutuhkan usaha yang tidak mudah. Pasalnya, persaingan yang kompetitif akan menyertai setiap detik kehidupan. Oleh karena itu, setiap orang harus membekali diri dalam rangka memenangkan kompetisi di era globalisasi sekarang ini.
Kompetisi tidak hanya terjadi di lingkungan kerja yang bersifat kekantoran, tetapi juga di dunia bisnis, khususnya wirausaha atau lebih populer dengan kataentrepreneurship.  Kompetisi yang sehat akan menghasilkan hasil yang baik. Sebaliknya kompetisi yang tidak sehat akan memperburuk suatu keadaan. Di lingkungan kerja, kompetisi umumnya terjadi dengan sesama karyawan disuatu kantor. Kompetisi horizontal dalam sebuah kantor merupakan persaingan dalam rangka mencari kedudukan yang lebih tinggi.  Dalam dunia bisnis, kompetisi seringkali terjadi karena persaingan antar produk dan pemasaran.
Meski demikiann, yang utama adalah sumber daya manusia (SDM) yang selalu bekerja secara  profesional. Sumber Daya Manusia (SDM) yang profesional akan mencetak manusia unggul. SDM ini selalu berorientasi pada kemajuan yang dapat meningkatkan kualitas pribadi seseorang. Bagi suatu instansi baik negeri ataupun swasta, apabila institusi mereka mempunyai banyak sumber daya manusia yang expert dibidangnya, maka institusi mereka akan mengalami pertumbuhan yang signifikan baik mulai produk, pelayanan dan sebagainya.
Manusia unggul adalah manusia yang mempunyai berbagai kelebihan. Keunggulannya tidak hanya satu melainkan memiliki berbagai skill yang dibutuhkan. Manusia unggul ini selalu berorientasi menjadi yang terdepan. Dan, Manusia unggul pastinya berbeda dengan manusia pada umumnya. Perbedaan manusia unggul umumnya terletak pada kemampuan yang dimiliki baik skill dalam menyelesaikan segala persoalan dengan tepat dan cepat maupun kemampuan dalam hal berinovasi menciptakan sesuatu yang baru.
Melahirkan manusia unggul jangan disalahpahami hanya dengan pengertian meloloskan siswa-siswa berprestasi yang mampu merengkuh juara olimpiade fisika, matematika, atau kimia. Menjadi manusia unggul bisa dialami oleh siapa saja yang mampu mengatasi kediriannya menuju kedirian yang lebih. Sifat serakah dan senang korupsi adalah manusiawi dan bahkan menjadi bagian tak terpisah dari manusia. Untuk lahir menjadi manusia unggul, seseorang harus bergerak untuk memperbarui kemanusiawiannya menjadi lebih manusiawi dengan menjelma menjadi manusia yang tidak serakah dan senang korupsi.
Seorang pejabat akan bernilai lebih jika setiap saat dia berhasil mengawasi dan menekan nafsu korupsinya. Dalam mengarungi bahtera kehidupan yang nyata itulah manusia diberi kuasa untuk memikul tanggung jawab atas dirinya sendiri. Dia harus menciptakan nilai-nilai untuk dirinya sendiri pada saat perjalanan kehidupan tersebut.
Berbagai keuntungan akan mendampingi manusia unggul tatkala mereka bersaing dengan orang lain. Manakala kita melihat dari namanya saja manusia unggul, hal ini menunjukkan bahwa manusia tersebut unggul dari para pesaingnya. Meski demikian, yang paling pokok adalah menjadi manusia unggul yang selalu bersumber pada Al Qur’an dan Al Hadist akan mengantarkan keselamat an kehidupannya dunia dan akherat. Pasalnya, mereka selalu berorientasi pada ilmu pengetahuan. Sebagaiamana disebutkan dalam Al Qur’an bahwa ilmu pengetahuan merupakan amalan yang tidak pernah terputus.
Berangkat dari pemaparan diatas, manusia unggul merupakan manusia yang memiliki kualitas yang tentunya tidak dimiliki manusia pada umumnya. Mereka selalu berusaha dan bekerja keras untuk menjadi yang terbaik. Disamping itu, Manusia unggul tentunya memiliki ilmu pengetahuan yang luar biasa. Manakala bangsa Indonesia memiliki banyak manusia unggul, maka bangsa kita tidak hanya dapat bersaing dengan negara maju di era globalisasi ini, tetapi juga bisa menjadi negara inovator bagi negara maju. manusia unggul ini akan memberikan kontribusi yang besar bagi bangsa.



B. Indikator Menjadi Manusia Unggul

           
        Indikator untuk menjadi manusia unggul antara lain yaitu:
·         Memiliki ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, untuk peningkatan derajat dan martabatnya,
·         Berorientasi ke masa depan, kerja keras, teliti, hati-hati, menghargai waktu, penuh rasa tanggungjawab dan berorientasi pada prestasi (achievement oriented) dan bukan prestige semata,
·         Mempunyai cita-cita, visi dan misi, dalam kehidupan,
·         Memiliki keunggulan kompetitif, komporatif, dan keunggulan inovatif,
·         Taat hukum, menghargai hak asasi manusia, dan menghargai perbedaan (pluralisme),
·         Memiliki rasa tanggungjawab, karena “semua masalah dalam kehidupan harus dihadapi dengan penuh rasa tanggungjawab (responsibility) dan penuh perhitungan (accountability),
·         Bersikap rasional, menghargai waktu, memperhatikan masa depan (membuat perencanaan hidup) dan perubahan, kreatif dan berkarya execelence”, sehingga tercipa “manusia madani” dalam arti manusia yang mengota, elite, dan berbudaya tinggi.



C. Kiat Menjadi Manusia Unggul

Tidak sedikit cara yang dapat digunakan untuk menjadi manusia unggul. Artinya, berbagai cara dapat dijadikan sebagai pedoman dalam mengembangkan keunggulan kualitas pribadi. Yang pertama, manusia yang dalam hidupnya selalu bersumber pada Al Qur’an dan Al Hadist. Memahami dan selalu mengamalkan Al Qur’an dapat menciptakan keunggulan kualitas pribadi karena Al Qur’an merupakan sumber kehidupan yang lengkap dan sempurna.
Menciptakan pemikiran yang selalu berorientasi pada inovasi dan menjadi inovator bagi manusia lainnya.  Dalam berkompetisi, tidak cukup seseorang hanya mengandalkan pada keahlian pada bidang tertentu, sehingga perlu melakukan inovasi yang dapat membuat perbedaan dengan orang lain pada umumnya. Berinovasi merupakan suatu tanda bahwa seseorang tidak ingin hidupnya selalu mendatar. Inovasi selalu menunjukkan jalan pemikiran yang selalu maju dan tidak menginginkan kualitas hidupnya seperti pada hal yang dilakukan orang biasa pada umumnya. Manakala kita selalu berinovasi maka kita akan menjadi pribadi yang luar biasa.
Memiliki skil yang excellent. Skill yang tidak berdasar pada kemampuan pada umumnya. Tetapi, skill yang dimiliki oleh manusia unggul merupakan skill yang tidak dimiliki oleh orang lain. Sebagai contoh, era globalisasi ini kita memerlukan suatu skill bahasa yang tidak dipunyai masyarakat pada umumnya. Hal ini dapat dilakukan dengan menguasai bahasa asing lebih dari tiga bahasa, misalnya bahasa inggris, bahasa arab dan bahasa mandarin.
Berdaya saing positif. Dalam setiap kesempatan di lingkungan kita harus memiliki naluri berdaya saing positif, kalau tidak pasti kita akan berat menghadapi hidup ini. Misalnya bagi perguruan tinggi yang tidak memiliki mental berdaya saing positif maka akan membuat mereka panik dan kalang kabut karena takut tersaingi oleh perguruan-perguruan tinggi dari luar negeri. Mereka akan melihat itu sebagai ancaman yang seolah-olah akan menghancurkannya. Berbeda apabila memiki mental bersaing positif, hal itu justru akan ditanggapi dengan senang hati seolah-olah dia mendapatkan sparing partner yang akan memacunya lebih berkualitas lagi. Sebab mereka yang tidak diberi pesaing, kadang-kadang tidak membuat mereka maju.  Pepatah mengatakan, lebih baik menjadi juara dua diantara juara umum, daripada menjadi juara satu dari yang lemah, atau juara utama dari yang bodoh. Karena yang terpenting bukanlah jadi juaranya, tapi bagaimana caranya kita memompa kemampuan optimal dalam menjalani kehidupan. Jadi jangan jengkel apabila melihat orang lain lebih baik dari kita.
Mampu bersinergi (berkelompok). Menurut Steven R. Covey, sinergi merupakan salah satu dari tujuh kebiasaan yang efektif. Dalam bersinergi atau berkumpul akan tercermin perbedaan nilai tiap individu. Jika kita mampu mengelolanya maka akan melahirkan kelmpok kerja / team work yang solid, dimana nilai hasilnya akan jauh lebih besar, lebih dahsyat atau lebih unggul dibandingkan jika dilakukan sendiri-sendiri. Semakin besar kekuatan sinerginya dalam setiap berinteraksi dengan yang lain, maka akan semakin besar kemampuan yang dihasilkan. Itulah diantara kunci menjadi unggul.
Manajemen Kalbu. Bagi pribadi yang ingin unggul dan berprestasi maka dia harus mampu mengendalikan suasana hatinya, karena orang itu tergantung suasana hatinya. Kalau hatinya merasa gembira maka dia gembira, kalau hatinya sedang sedih maka dia akan sedih, jika hatinya sedang dongkol, ngambek, maka seperti itulah dirinya. Bagi orang yang tidak mampu mengendalikan atau mengelola hatinya, maka akan merasa repot dalam menghadapi hidup ini. Ingatlah, dalam tubuh manusia ada segumpal daging, ketika segumpal daging itu baik, maka seluruh tubuhnya akan baik, dan jika segumpal daging itu rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Segupal daging itu bernama hati.



D. Hubungan Manusia Unggul Dengan Budaya

          Manusia dan kebudayaan merupakan salah satu ikatan yang tak bisa dipisahkan dalam kehidupan ini. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna menciptakan kebudayaan mereka sendiri dan melestarikannya secara turun menurun. Budaya tercipta dari kegiatan sehari hari dan juga dari kejadian – kejadian yang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.
Kebudayaan berasal dari kata budaya yang berarti hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Definisi Kebudyaan itu sendiri adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Namun kebudayaan juga dapat kita nikmati dengan panca indera kita. Lagu, tari, dan bahasa merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang dapat kita rasakan.
Manusia dan kebudayaan pada hakekatnya memiliki hubungan yang sangat erat, dan hampir semua tindakan dari seorang manusia itu adalah merupakan kebudayaan. Manusia mempunyai empat kedudukan terhadap kebudayaan yaitu sebagai
1) Penganut kebudayaan,
2) Pembawa kebudayaan,
3) Manipulator kebudayaan, dan
4) Pencipta kebudayaan.

Sebuah kebudayaan besar biasanya memiliki sub-kebudayaan (atau biasa disebut sub-kultur), yaitu sebuah kebudayaan yang memiliki sedikit perbedaan dalam hal perilaku dan kepercayaan dari kebudayaan induknya. Munculnya sub-kultur disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya karena perbedaan umur, ras, etnisitas, kelas, aesthetik, agama, pekerjaan, pandangan politik dan gender,
Ada beberapa cara yang dilakukan masyarakat ketika berhadapan dengan imigran dan kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan asli. Cara yang dipilih masyarakat tergantung pada seberapa besar perbedaan kebudayaan induk dengan kebudayaan minoritas, seberapa banyak imigran yang datang, watak dari penduduk asli, keefektifan dan keintensifan komunikasi antar budaya, dan tipe pemerintahan yang berkuasa.




E. Perbandingan Manusia Indonesia Dengan China Dan Jepang

Jepang


Budaya Harakiri. Harakiri adalah kebiasaan orang Jepang jika mengalami kekalahan atau melakukan kesalahan yang memalukan. Mari kita lihat sisi positif dan negatifnya. Pada zaman dahulu, Harakiri dilakukan saat seseorang kalah berduel. Tidak tahan menanggung malu. Memang terdengar seperti orang yang memiliki kepribadian yang lemah dan dosa hukumnya jika bunuh diri, tetapi maksud sebenarnya adalah untuk menjaga kehormatan. Daripada dibunuh atau diampuni lalu hidup terhina, lebih baik berbesar hati mengakui kekalahan lau mati dengan terhormat. Sampai sekarang, harakiri masih ada di kehidupan orang Jepang. Lihat saja para koruptor Jepang yang pasti mati bunuh diri karena tak sanggup menahan malu. Padahal mereka korupsi untuk membiayai kebutuhan partai. Tidak seperti di Indonesia masuk rekening pribadi. Inilah yang menyebabkan Jepang tidak masuk dalam 10 Negara Asia terkorup versi metro10. Atau kisah saat pertempuran Jepang- Amerika di Pulau Iwo Jima. Tentara Jepang hanya ada 22000 dan Amerika 100000. Dilihat dari jumlah sudah pasti kalah. Tapi baik jendral maupun prajurit tidak ada yang mau menyerah. Mereka tetap bertempur walaupun sudah tahu apa hasilnya. Dan bagi mereka yang berhasil selamat, akan langsung menancapkan pisau ke perut mereka alias Harakiri. Kalau kita, baru ditodong kompeni sudah bilang “Ampun menir.” Bahkan, para pilot yang selamat dalam pertempuran usai perang ini, langsung kembali ke Jepang dan bunuh diri di tempat pendaratan. Dan diyakini mereka menjadi hantu dan membuat tempat pendaratan mereka salah satu tempat terangker di Jepang. Intinya mereka itu tahu malu, disiplin, dan cinta negara. Tidak seperti koruptor kita yang masih bisa senyum-senyum disorot kamera TV dan tidak mengaku salah. Mereka juga tidak terbiasa dengan budaya jam karet.....
China

Dagang, uang,uang,uang,bisnis,usaha, lalu kaya, kata- kata yang identik dengan orang-orang China. Mereka rajin-rajin dalam usaha, rajin menabung dan sabar sampai akhirnya mereka kaya. Walaupun hanya bisnis kecil, mereka akan tetap menjalankannya. Sampai ada pepatah orang China “Jangan takut saat berjalan pelan, tetapi takutlah saat anda diam” Sebelum mereka berhasil, mereka tidak akan makan makanan lain selain nasi dan tahu. Tentu kita bisa lihat dari penduduk Tiong Hoa sekarang atau tanyakan pada generasi sebelum kita bagaimana kehidupan para keturunan ini. Dari hasil keuntungan usaha mereka, mereka akan menabungnya sampai cukup besar. Eits... Tunggu dulu bukan untuk bersenang-senang tapi untuk merperluas usaha mereka. Baru sampai mereka rasa cukup, mereka akan bersenang-senang. Tentu saja rumus usaha ini membuat mereka terlihat lebih sukses dibanding kita, penduduk pribumi tanah ini. Bandingkan dengan kita, setelah dapat uang cukup banyak, para lelaki pasti menikah lagi dan berfoya-foya, setelah itu hidup susah lagi. ‘Haiya, lu olang kalau dagang pake otak aaa...’ Intinya orang China adalah orang yang ulet,rajin, dan sabar. Patut kita contoh....



 Daftar Pustaka
Kompas. 17 Februari 2006. Budaya dan Manusia Unggul.
http://whathefuuuuuck.blogspot.co.id/2012/03/perbedaan-orang-indonesia-china-amerika.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar